Yang memberi rizqi itu hanya satu. Seluruh hamba itu berada disisiNya, dan dia telah mengatur semuanya. Karena itu tidak ada alasan untuk bersedih dan meratap karena sulit mendapatkan rizqi itu terasa sulit didapat itu merupakan ujian kesabaran dari Allah, sabar tidak hamba itu diuji dengan kemiskinannya. Sebab semua hamba itu pasti mendapat jatah rizqi dari Allah.
Seperti yang telah dijelaskan dalam firmanNya:
“Dan, dilangit terdapat (sebab-sebab) rizqimu dan tedapat pula apa yang dijanjikan kepadamu”. (QS. Adz-Dza:22).
Jika memang yang member rizqi itu adalah Allah, maka kenapa manusia itu harus menjilat dan mengapa harus merendahkan diri di hadapan orang lain hanya karena ingin mendapatkan rezeki dari sesama manusia?
“Dan, tidak ada satu binatang yang melatapun dimuka bumi melainkan Allah-lah yang member rizqinya”. (QS.Hud:6). Dalam firmanNya yang lain disebutkan : “Apa saja yang Allah anugrahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahanya. Dan apa yang Allah tahan, maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu”. (QS. Fathir :2)
DR. AIDH AL-QARNI
Posted in:
Artikel
|
Orang tua akan berbahagia dan beruntung besar, bagaikan kejatuhan dewandaru dari kahyangan, manakala mampu melahirkan anak baik laki-laki maupun perempuan yang shaleh-shalehah. Anak-anak yang shaleh-shalehah merupakan deposito orang tua yang tak ternilai harganya. Allah Swt berfirman :
“ Dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan sekaligus bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. (Q.S. Yaasin:12)
Bentuk kebahagian orang tua antara lain, Pertama, anak-anak mengangkat derajat orangtuanya. Kedua orang tua akan terus mendapatkan aliranpahala, walupun orang tua telah berada dialam kubur, disebabkan jerih payahnya mendidik anaknya menjadi shalehah di dunia. Anak-anak itu senantiasa mendoakan ayah-ibunya secara ikhlas demi kebahagiaannya.
Ketiga, anak-anak shaleh akan ikut memberikan advokasi (pembelanjaan) pada orang tua dihari akhirat. Advokasi itu tidak akan berhenti sehingga dia dan orangtuanya sama-sama masuk surga.
Sebaliknya, orangtua yang teledor dalam memenuhi hak pendidikan anaknya boleh jadi anak itu kelak menjadi bumerang baginya. Betapa pun orangtua termasuk baik di dunianya, anak itu bisa menariknya keneraka, akibat kelalaian mendidiknya.
Kalau anak-anak itu disiksa, orangtua mungkin akan disiksa dua kali lipatnya. Naudzubillah min dzalik.
Ya Allah, jadikanlah putra-puteri kami anak-anak yang shaleh-sahalehah, qurrata a’yun, yang berguna bagi agama dan masyarakatnya. Dan tunjukanlah mereka kejalan yang lurus, jalan para nabi, syuhada, dan orang-orang shaleh. Ya Allah jadikanlah mereka simpanan kami diakhirat kelak. Ya Allah, berilah kami petunjuk dan kemudahan merwatnya.
Ya Allah, Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami. Ampunilah kami. Dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami.
Ya Allah, Tuhan kami berikanlah kami kebahagiaan didunia dan diakhirat, dan periharalah kami dari siksaan neraka. Amin ya Rabbal alamin
Posted in:
Artikel
|
Betapapun jeniskelamin anak telah menjadi otoritas dan hak prerogative ketuhanan, tapi itu tidak menutup ruang bagi manusia untuk berikhtiar melakukan rekayasa genetika dalam rangka mempengaruhi jenis kelamin anak, selama masih dalam tahap pilih-pilihan dan sejauh dengan cara-cara yang tidak mengesankan penolakan terhadap ketentuan Allah swt.
Seperti halnya rezeki dan mati, betapapun keduanya menjadi otoritas ketuhanan manusia boleh dan dipersilahkan untuk berikhtiar. Misalnya dalam hal rizki diperbolehkan bekerja mencari sumber penghidupan yang layak atau dalam hal mati, diperbolehkan menghindari sarana-sarana yang dapat mempercepat proses kematian seperti meminum racun dan tidur untuk bunuh diri di atas rel kereta api. Ikhtiar untuk merekayasa genetika ternyata sudah lama diperaktikan.
Tidak hanya disini saja tetapi juga dinegeri-negeri yang lain. Beragam cara yang dilakukan. Ada cara yang ilmiah menurut ilmu kedokteran dan ada pula cara yang sekedar mitos.
Aristoteles misalnyamenyarankan agar tempat tidur dibuat membujur selatan-Utara untuk mendapatkan anak laki-laki. Gara-gara Anaxagoras percaya bahwa tidur di sisi kanan selagi berhubungan seks akan menghasilkan bayi laki-laki, berabad-abad kemudian sejumlah bangsawan perancis samapai membuang testis kirinya.
Bagaimana analisis masalah ini menurut pandangan Rasulullah saw ? Bagimana pula analisis maslah ini menurut pandangan ilmiah kedokteran? Adakah ikhtiar konvensioanl yang diajarkan oleh agama islam.
Posted in:
Artikel
|
.jpg)
.jpg)
.jpg)